MA Batalkan UN Sebagai Satu-satunya Syarat Kelulusan

4
1606

Mahkamah Agung (MA) mengabulkan gugatan agar Ujian Nasional (UN) ditiadakan. Atas dikabulkan gugatan itu, penggugat yang menamakan diri Tim Advokasi Korban UN (Tekun) dan Eduvation Forum mendesak pemerintah untuk mematuhi putusan MA.

“Mendesak pemerintah untuk menghargai upaya hukum yang dilakukan masyarakat dan menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Meminta pemerintah tidak melakukan upaya hukum apapun,” ujar Koordinator Tekun Gatot Goei di sela-sela acara syukuran di kantor LBH Jakarta, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu (25/11/2009).

Tekun dan Education Forum menggelar tumpengan sebagai tanda bersyukur. Ada dua tumpeng di atas tampah masing-masing berdiameter 50 meter. Dua tumpeng itu dihiasi lauk pauk dan lalapannya.

Gatot mengatakan Presiden RI harus merevisi kebijakan UN dengan menghapusnya sebagai syarat utama kelulusan. Gatot menegaskan yang dipermasalahkan pihaknya sebagai masyarakat adalah menggunakan UN sebagai syarat satu satunya kelulusan.

“UN tidak berpengaruh sama sekali, anggaran tiap tahun dikeluarkan tapi tidak meninggalkan apapun kecuali masalah baru. Kita tidak mempermasalahkan kecuali ke perguruan tinggi. Yang kita permasalahkan adalah UN sebagai syarat satu-satunya kelulusan,” imbuhnya.

Menurut Gatot, untuk mengubah sistem itu, Mendiknas diminta membangun sistem pendidikan yang lebih baik jika UN ditiadakan dengan putusan kasasi MA ini. Gatot juga mendesak MA memberikan salinan putusan ke tim advokasi, karena hingga hari ini tim belum menerima pemberitahuan dan salinan putusan yang sudah diputus MA pada 14 September 2009.

link Berita

4 COMMENTS

  1. Ass…sebelumnya maaf nich. Aku cuma mau menyampaikan sedikit yang ada dlm benak.setuju nggak setuju UN ditiadakan,kita tetap harus setuju. Tapi aku malah berfikiran jauh setelah putusan UN ditiadakan.Coba deh kita berfikir sejenak,apa jadinya kalau UN ditiadakan. Ada banyak tanda tanya di benakku….Tapi menengok banyak siswa yang stres akibat UN membuat kita berfikir ulang tentang UN.Bahkan tidak jarang yang mengurung diri di kamar karena belum siap menghadapi kenyataan :LULUS ATAU TIDAK LULUS.Jadi,tetapkanlah yang terbaik agar jadi hasil yang baik juga.

  2. orang yang disebut pintar itu dikasih soal apa saja itu mesti bisa, beda dng pintar karbitan atau pintar lokalan, jadi mengapa kita keberatan dng uan kalau niat kita sekolah pingin pintar? Tugas para guru dan orang tua serta tanggung jawab murid untuk menjadikan pintar beneran bukan pintar asal asalan(tahu yg saya maksud?).Didunia penerimaan kerja tidak ada pembedaan tes,ini untuk yang pintar atau yang bodoh semua sama,jadi kita harus bersaing untuk itu dibuat standarisasi dng wujud UAN,mungkin banyak kendala diawal awal tapi sebisanya itu harus diatasi sehingga sekolah di jawa,kalimantan ,papua dll,diIndonesia kepintaran siswa akan sama sebab materi yang diberikan semua sama. mudah2an 10 th kemudian ini akan terwujud. kalau tidak dimulai sekarang kapan lagi? Lanjutkan UAN jangan jadi pemalas!

  3. mnrut sya un mrugkan bnyk phak,krn dlm un sring trjd kcurangan,aplg un d mjukan,slain ntu jg bnyk nak yg bdoh jstru lu2s un dgn nilai baek n sblikny pd nak yg brprestasi justru tdk lu2s.apkh gnerasi sprt ne yg d btuhkan bangsa ne

  4. sya setju dg di tiadakannya UN,soalnya tu tdk adil bgi kmi,knp dmikian karna perjuangan QTa slma 3 thn hnya di tntukan dgn 1 test yaitu UN,pa lgi dgn adanya pmajuan UN thun ni,UN yg shrusnya blan mei skrang mnjdi maret minggu ke-2.wlwpun pmerintah mw mndpatkan pemuda2 yang berprestasi dlm wktu singkat dgn cra standart kelulusan di naikkan tiap tahun tpi TDK BGNI CRANYA……bgmn bs mju kalu korban dri tdk lu2s UN trus mningkat tiap tahunnya,blum lgi yg bnuh diri,stresss,gila.pa ni pmerintah yg inginkan untuk gnersi selnjutnya…..tpi ni bkan slh pmerintah spenuhnya….hiks hiks hiks

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here